SITUBONDO — Ketua PMI Kabupaten Situbondo periode 2026-2031 Husna Laili menargetkan penguatan layanan donor darah, peningkatan kapasitas relawan, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana sebagai agenda utama organisasi kemanusiaan tersebut selama lima tahun ke depan.
Menurut Husna, kebutuhan masyarakat terhadap layanan darah yang cepat dan berkualitas menjadi salah satu tantangan yang harus dijawab PMI. Karena itu, modernisasi Unit Donor Darah (UDD) PMI Situbondo akan menjadi prioritas kepengurusannya.
"Kami bisa meningkatkan ataupun memodernisasi, memaksimalkan Unit Donor Darah (UDD) yang ada di Kabupaten Situbondo," kata Husna seusai dilantik oleh Ketua PMI Jawa Timur, Imam Utomo, di Pendopo Rakyat Situbondo, Senin (8/6/2026).
Ia mengatakan, pembenahan UDD diperlukan untuk memastikan ketersediaan darah yang aman dan memadai bagi masyarakat. Selain menjaga kualitas darah, PMI juga berupaya meningkatkan kemampuan pelayanan agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi dengan lebih baik.
"Kita ingin memastikan bahwa semua darah yang tersedia, kualitasnya maupun kebutuhannya itu sesuai dan juga mungkin bisa lebih kita tingkatkan lagi ke depannya," ujarnya.
Selain pelayanan darah, PMI Situbondo akan memperkuat kaderisasi melalui Palang Merah Remaja (PMR) dan Korps Sukarela (KSR). Organisasi tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menyiapkan relawan kemanusiaan di masa depan.
Menurut Husna, semangat kerelawanan perlu ditanamkan sejak dini agar nilai-nilai kemanusiaan dapat berkembang hingga tingkat desa. Dengan demikian, regenerasi kader PMI dapat berjalan berkelanjutan.
"Harapannya dari seperti itu akan lahir regenerasi dan juga semangat PMR, nilai-nilai kemanusiaan ini bisa dirasakan hingga tingkat bawah," katanya.
Fokus lainnya ialah memperkuat peran PMI dalam mitigasi dan penanganan bencana. Langkah itu dinilai relevan mengingat Situbondo termasuk wilayah yang kerap menghadapi bencana hidrometeorologi.
Pada awal 2026, kawasan barat Situbondo dua kali dilanda banjir. Peristiwa tersebut menyebabkan ribuan rumah warga dan lahan pertanian terdampak. Kondisi itu menunjukkan pentingnya kesiapan lembaga kemanusiaan dalam mendukung penanganan bencana.
"Nah, kita ingin PMI Kabupaten Situbondo hadir nantinya di dalam mitigasinya maupun dalam tindakan perbaikannya nanti di kebencanaan ini," ujar Husna.
Ia berharap PMI dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Situbondo dalam berbagai program kemanusiaan, mulai dari pelayanan kesehatan, penguatan relawan, hingga penanganan bencana.
Sementara itu, Imam Utomo menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia PMI. Menurut dia, relawan tidak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian, tetapi juga harus memiliki keterampilan yang terukur dan tersertifikasi.
"Relawan enggak sembarangan orang yang mau terus masuk, tapi harus punya spesifikasi seperti sertifikatnya begitu," kata Imam.
Ia mencontohkan pengalaman penugasan relawan PMI ke Sumatera Utara saat terjadi bencana. Sebagian relawan yang dikirim belum memiliki kemampuan teknis yang memadai sehingga tidak dapat berkontribusi secara optimal di lapangan.
"Kita pernah kirim relawan ke Sumatera Utara pada saat terjadi bencana, waktu di sana malah menjadi tontonan saja, dia enggak bisa apa-apa," ujarnya.
Oleh karena itu, PMI Jawa Timur mulai membuka program pendidikan relawan secara bertahap. PMI kabupaten dan kota diminta mengirim kader untuk mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikasi sesuai bidang tugas masing-masing.
Menurut Imam, profesionalisme relawan menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kompleksitas penanganan bencana dan pelayanan kemanusiaan. Dengan sumber daya yang terlatih, PMI di daerah diharapkan mampu memberikan respons yang lebih cepat dan efektif saat masyarakat membutuhkan bantuan.[]